Rabu, 27 Oktober 2010

Tak Cukup Menjadi Baik


Menjadi baik, itu adalah hal yang baik. Tetapi kalau ingin menjadi kebaikan bagi banyak orang, itu adalah hal lain lagi. Itu adalah hal yang baik sekali. Kata-kata bijak itu mengingatkan saya akan ungkapan Stephen R Covey (7 Habits), the enemy of the best is good. Musuh yang terbaik adalah baik. Kita seringkali keblinger dengan pendapat bahwa musuh utama dari terbaik adalah buruk. Kenyataannya bukan demikian. Kemarin, saya beruntung mendapat kesempatan untuk mengikuti perayaan ulang tahun yang ke-25 sebuah perusahaan eceran ternama di Jawa Barat. Perayaan syukur atas keberadaan sebuah perusahaan yang bertahan, bahkan berkembang sampai 25 tahun itu merupakan hal istimewa, karena tidak banyak perusahaan yang hingga kini mampu bertahan sampai 25 tahun. Apalagi diterpa badai krisis dan prahara keterpurukan yang berkepanjangan, nampaknya tak gampang perusahaan yang mempertahankan eksistensinya dengan menaungi sekitar 7500 karyawan di dalamnya.
Syukuran itu sendiri dikemas dalam acara "employee gathering" yang melibatkan sekitar seribu orang. Diawali dengan sepeda santai yang menempuh rute sekitar 15 km, dan dilanjutkan dengan acara seremonial ulang tahun, kilas balik, sambutan-sambutan, bagi hadiah dan ramah-tamah yang diiringi musik akustik dari sebuah kelompok band. Perusahaan yang telah merambah ke 19 kota baik di Jawa Barat, DKI maupun Jawa Tengah itu, tentu memiliki riwayat perjuangan yang cukup panjang. Semuanya berawal dari hal yang kecil, sederhana. Dari sebuah toko kecil dengan karyawan 8 orang, nyempil di pinggir kota, sekarang semuanya telah berubah menjadi sebuah perusahaan eceran terkemuka yang mampu berkiprah secara nasional. Bahkan pendirinya pun pernah dianugerahi pemerintah dengan award sebagai salah satu perintis ritel modern di Indonesia. Semua bermula dari hal kecil, sederhana. Berangkat dari prinsip filosofi yang ditaburkan: jujur, setia, rendah hati, dan terus-menerus melakukan perubahan dan peningkatan, kini perusahaan itu tidak hanya sekedar mampu bertahan, tetapi mampu berkibar di tengah persaingan yang semakin dinamis. Dalam bukunya, Built to Bless Paulus Bambang WS, menggambarkan adanya lima (5) fase perubahan. Ternyata setiap perusahaan mengalami perubahan, dan prosesnya mengikuti alur berikut. Fase pertama, Buruk (Bad).
Birinya,perusahaan ini memiliki produk dan layanan yang buruk. Menerapkan Ghost Corporate Governance, banyak tahyul dan mungkin juga tuyul. Tidak memiliki visi, hanya fokus pada keuangan jangka pendek. Fase kedua, Mapan (Established). Cirinya, perusahaan ini memiliki produk dan jasa yang baik. Menerapkan Good Corporate Governance. Pendekatannya lebih manajerial. Memiliki visi dan fokus pada kinerja yang seimbang pada aspek keuangan, pelanggan, proses internal dan sumber daya manusia. Fase ketiga, Hebat (Good to Great).
Cirinya,perusahaan ini memiliki catatan prestasi yang stabil setelah titik transformasi sampai tahun ke-15. Memiliki kemampuan berinovasi terus-menerus, dan menjadi perusahaan terdepan dalam berbagai aspek manajemen. Fase keempat, Langgeng (Built to Last). Cirinya, perusahaan ini memiliki budaya perusahaan yang mantap dan dengan mudah dapat dilihat pada setiap praktek bisnis yang dilakukan oleh seluruh karyawan. Budaya ini sudah melekat dan sudah menjadi simbol dan brand perusahaan. Fokus pada pengembangan mitra, industri, masyarakat sekitar, bangsa dan negara. Fase kelima, Berkat (Built to Bless).
Cirinya,perusahaan ini memiliki pimpinan yang memiliki spiritualisme tinggi. Memiliki tujuan perusahaan yang berbasis pada kebenaran. Memiliki kriteria penilaian yang menekankan aspek kinerja intelektual, emosional, etika dan spiritual. Jika dalam keberlangsungan dan kehidupan sebuah perusahaan memiliki fase-fase, tentunya di dalam kehidupan kita pun memiliki fase-fase yang mengantarkan kita memiliki kehidupan yang penuh kebermaknaan. Ada seorang pakar (Andre Ho) yang membagi fase kehidupan manusia dalam to do, to have dan to be. Ada yang mengatakan bisa jadi to have dulu, baru to do dan to be. (Bahasan tentang hal ini, mudah-mudahan dapat kita bicarakan lain kali). Tetapi apa pun namanya kita harus tetap bergerak, berubah menuju ke arah yang lebih baik, lebih baik lagi, sampai mencapai tingkat keunggulan.
Ternyata memang benar, menjadi baik saja tidak cukup. Kita perlu menjadi yang terbaik, bahkan menjadi yang terunggul, Dengan demikian kita tidak hanya baik bagi diri sendiri, tetapi bisa menjadi kebaikan, menjadi berkat bagi banyak orang, (ths).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar